- Diskusi dengan Wartawan, Syahrul Aidi Dorong Solusi Krisis Media Massa
- Gaungkan Semangat Hari Bumi, PEP Lirik Ajak Masyarakat Ubah Sampah Jadi Bernilai
- Pemkab Kuansing dan RAPP Perkuat Sinergi Percepatan Penurunan Stunting
- 21 Perkara Inkracht Dimusnakan Barang Bukti di Kejari Meranti
- 110 Jemaah Calon Haji Meranti Akan Berangkatkan Senin di Embarkasi Batam
- Rianto SH, MH Disorot, 70-an Peserta Ramaikan Seleksi KI Sumut 2026
- FORKI Riau Fokus TC Penuh Jelang Kejurnas Bandung, Perangkingan Atlet Digelar 26 April
- Temui Menteri ATR/BPN dan Dirjen Migas, Bupati Afni Perjuangkan Hak Rakyat Kandis dan Minas
- Pengedar Ganja di Banglas Dibekuk Berkat Layanan 110, Polisi Amankan BB dan Tes Urine Positif
- Stok BBM Kepulauan Meranti Aman, Warga Diimbau Beli di SPBU Sesuai Ketentuan UUD 1945
Kejar Target Nol Emisi Pertamina& ExxonMobil Sepakati Dekarbonisasi

Jakarta, VokalOnline.Com - Pertamina dan ExxonMobil memperkuat kerja sama pengembangan Carbon Capture and Storage (CCS) yang dilakukan dalam upaya menurunkan emisi karbon, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi melalui investasi, pembukaan lapangan kerja, dan peningkatan pendapatan bagi negara.
Hal itu diputuskan menyusul studi bersama antara Pertamina dan ExxonMobil yang menemukan ada potensi karbondioksida (C02) dengan kapasitas hingga 1 miliar ton di lapangan migas Pertamina. Kapasitas CO2 itu bisa untuk menyimpan CO2 emisi seluruh Indonesia pada rata-rata saat ini secara permanen hingga 16 tahun ke depan.
Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan, penemuan potensi C02 ini menjadi titik cerah pengembangan bisnis CCS, serta upaya dekarbonisasi di Indonesia. Selain itu, kerja sama pengembangan CCS dan dekarbonisasi tersebut sejalan dengan upaya Pertamina mendukung program pemerintah mempercepat transisi energi dengan target penurunan emisi sebesar 29 persen pada 2030.
"Salah satu lapangan terpilih ini memiliki kapasitas yang sangat besar untuk menyimpan karbondioksida. Implementasi teknologi tersebut akan memprioritaskan sumber daya di ranah domestik, pembukaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan bagi negara," kata Nicke.
Kerja sama kedua belah pihak ditandai dengan penandatanganan Head of Agreement (HoA) oleh Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati dan President Asia Pacific Exxon Mobile Low Carbon Solution and President ExxonMobil Indonesia Irtiza Sayyed, dengan disaksikan oleh Duta Besar AS untuk Republik Indonesia Sung Y. Kim, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut B Pandjaitan, dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif di Nusa Dua, Bali pada Minggu (13/11).
Penandatangan HoA ini merupakan tindak lanjut Joint Study Agreement (JSA) yang ditandatangani di AS pada 13 Mei 2022. Melalui penguatan kerja sama ini, Pertamina dan ExxonMobil akan mematangkan dan menyiapkan rancangan model komersial untuk pengembangan hub CCS regional di wilayah kerja PT Pertamina Hulu Energi OSES dengan potensi penyimpanan CO2 domestik dan internasional.
Nicke mengungkapkan, kerja sama Pertamina dengan Exxon dilakukan melalui studi bersama untuk melihat potensi penyimpanan CO2 di formasi saline di wilayah kerja Pertamina. Pada saat bersamaan, Pertamina juga sedang melakukan studi upaya dan inisiatif dekarbonisasi, salah satunya melalui CCS yang diharapkan mampu memberi sumbangsih pada aspek energy security.
Ditegaskan, cara cepat pengembangan transisi energi baru terbarukan dan dekarbonisasi di Indonesia adalah melalui partnership. Hal ini untuk menjawab tiga tantangan global sekaligus, yaitu teknologi, keuangan, dan human capital.
Penerapan teknologi CCS, imbuh Nicke, diharapkan akan berperan dalam menurunkan gas rumah kaca di atmosfer. Gas rumah kaca itu sendiri berdampak terhadap pemanasan global, perubahan iklim, pengasaman laut, hingga hilangnya keanekaragaman hayati.
"Pengembangan teknologi CCS memiliki dampak ganda, selain mengurangi emisi sekaligus meningkatkan produksi migas nasional," tutur Nicke.
Total, Pertamina tengah menggarap enam proyek CCS/CCUS dengan menyeleksi berbagai lapangan yang dapat digunakan sebagai tempat injeksi CO2. Keenam lahan potensial tersebut berada di berbagai wilayah lepas pantai, mulai dari Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi.
"Pengembangan teknologi CCS sejalan dengan komitmen Pertamina untuk menerapkan Environmental, Social, & Governance (ESG) di semua lini bisnis perusahaan, untuk mendorong keberlanjutan bisnis di masa depan," kata Nicke.
Sementara, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan menyatakan bahwa pemerintah Indonesia sedang berupaya mengembangkan regulasi yang mendukung CCS, dan memulai pembahasan dengan pemerintah di wilayah lain.
"Kesepakatan bersama ini merupakan landasan yang kokoh bagi Indonesia untuk secara mencapai target nol bersih Indonesia pada tahun 2060 atau lebih cepat," kata Luhut.**syafira
Berita Terkait :
- Tiga Kapal Negara Siaga di Pelabuhan Benoa Jelang KTT G200
- EBT Jadi Energi Masa Depan PLN Siap Perkuat Smart Grid0
- IMF Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Dunia Makin Suram ke Depan0
- Dukung Amazon Penuhi 100 Persen Energi Hijau, PLN Bangun 4 PLTS0
- Harga Cabai-cabaian Turun di Tengah Kenaikan Daging Ayam0
_Black11.png)









