- Reskrim Polsek Tebing Tinggi Amankan Pelaku Pencurian di Ruko Jalan Tanjung Harapan
- Sambut Hari Bhakti Pemasyarakatan ke-62, Lapas Tembilahan Gelar Donor Darah Bersama
- Polres Inhil Ungkap Kasus Peredaran Sabu di Batang Tuaka, Satu Pengedar Diamankan
- Polres Inhil Ungkap Kasus Peredaran Sabu, Seorang Pengedar Diamankan di Tembilahan
- Polsek Kempas Ungkap Kasus Narkotika di Desa Danau Pulai Indah, Satu Pelaku Diamankan
- Kabar Duka, Sekjen PWI Zulmansyah Sekedang Meninggal Dunia
- WKC Open Championship II 2026 Sukses Digelar, Inkai Prestasi Sabet Juara Umum
- Di Hadapan Perwakilan 150 Negara, Dr. Syahrul Aidi Kecam Keras Tindakan Israel di Timur Tengah
- Sambu Group Satukan Petani dan Industri dalam Kenduri Kelapa 2026
- Mitra SPPG se-Inhil Turun Tangan Ringankan Luka Korban Kebakaran di Pulau Kijang
Menteri Agama Ibaratkan Suara Azan dengan Gonggongan Anjing di Komplek
SE Pedoman Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Musala

Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas usai bertemu tokoh lintas agama di Balai Serindit, Kota Pekanbaru.
Pekanbaru, VokalOnline.Com -Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas membuat statmen heboh terkait Surat Edaran (SE) Nomor 05 tahun 2022 tentang Pedoman Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Musala.
Dia mengumpamakan seorang yang tinggal di sebuah kompleks, di mana para tetangga memelihara anjing semua.
"Yang paling sederhana lagi, tetangga kita ini, kalau hidup dalam satu
komplek itu misalnya, kiri kanan depan belakang pelihara anjing semua,
misalnya, menggonggong dalam waktu bersamaan, kita ini terganggu atau
tidak," tegas Yaqut di Balai Serindit, Komplek Gubernuran dalam kegiatan bertajuk Temu Tokoh
Agama se Provinsi Riau Bersama Menteri Agama, Rabu siang, 23 Februari
2022.
"Artinya apa, bahwa suara-suara ini apapun itu suara, ini harus kita atur supaya tidak menjadi gangguan," tambah Yaqut.
Yaqut kembali menegaskan, speaker dan toa di masjid boleh digunakan tapi
diatur agar tidak ada yang terganggu. Tujuannya agar niat speaker
sebagai sarana syiar bisa terlaksana tanpa harus mengganggu yang tidak
satu keyakinan.
"Saya kita, dukungan juga banyak atas ini karena
alam bawah sadar kita pasti mengakui bagaimana suara itu tidak diatur,
pasti mengganggu," terang Yaqut.
Yaqut juga mengibaratkan
seseorang yang tengah dikelilingi oleh truk. Dalam waktu bersamaan truk
menyalakan mesin sehingga membuat orang di tengahnya terganggu.
"Suara-suara yang tidak diatur pasti menjadi gangguan bagi kita," kata Yaqut.
Sebelumnya, Yaqut menyatakan SE itu tidak melarang masjid ataupun musala menggunakan toa. Dia mempersilahkan karena itu bagian dari syiar Islam.
"Tetapi ini harus diatur tentu saja, diatur bagaimana volume speaker, gak boleh kencang-kencang, 100 desibel," kata Yaqut.
Menurut Menag Yaqut, pengurus masjid dan musala dalam SE itu diatur kapan bisa menggunakan speaker, baik itu sebelum atau sesudah azan. Begitu juga dengan penggunaan speaker di dalam masjid.
"Tidak ada pelarangan, aturan ini dibuat semata-mata agar masyarakat harmonis, meningkatkan manfaat dan mengurangi ketidakmanfaatan," sebut Yaqut.
Menag Yaqut kemudian mengibaratkan sebuah komplek yang mayoritasnya muslim. Hampir setiap 100 hingga 200 meter ada masjid dan musala.
"Bayangkan kalau kemudian dalam waktu waktu bersamaan menyalakan toa di atas, kayak apa, itu bukan lagi syiar tapi menjadi gangguan buat sekitar," jelas Yaqut.
Yaqut mengibaratkan lagi seseorang yang muslim yang hidup di lingkungan mayoritas non muslim. Selanjutnya rumah ibadah non muslim menyalakan toa sehari lima kali dengan suara keras.
"Dengan kencang-kencang secara bersamaan, itu rasanya bagaimana," imbuh Yaqut.***
Berita Terkait :
- Pohon Arabica Setinggi 20 Meter Ini Sudah Berumur 25 Tahun Cuma Setinggi 110 cm0
- Upaya Pemerintah dalam Pemulihan Dunia Kerja yang Berorientasi pada Manusia0
- Kejari Bentuk Satgas Mafia Tanah Pekanbaru0
- Presiden Sampaikan Sejumlah Arahan pada Rakornas Penanggulangan Bencana0
- Kapolri Minta Vaksinasi Booster untuk Lansia Dimaksimalkan 0
_Black11.png)









