Breaking News
- Hendry Munief Dorong Pengusaha Muslimah Kembangkan Sektor UMKM dan Ekraf
- Reskrim Polsek Tebing Tinggi Amankan Pelaku Pencurian di Ruko Jalan Tanjung Harapan
- Sambut Hari Bhakti Pemasyarakatan ke-62, Lapas Tembilahan Gelar Donor Darah Bersama
- Polres Inhil Ungkap Kasus Peredaran Sabu di Batang Tuaka, Satu Pengedar Diamankan
- Polres Inhil Ungkap Kasus Peredaran Sabu, Seorang Pengedar Diamankan di Tembilahan
- Polsek Kempas Ungkap Kasus Narkotika di Desa Danau Pulai Indah, Satu Pelaku Diamankan
- Kabar Duka, Sekjen PWI Zulmansyah Sekedang Meninggal Dunia
- WKC Open Championship II 2026 Sukses Digelar, Inkai Prestasi Sabet Juara Umum
- Di Hadapan Perwakilan 150 Negara, Dr. Syahrul Aidi Kecam Keras Tindakan Israel di Timur Tengah
- Sambu Group Satukan Petani dan Industri dalam Kenduri Kelapa 2026
Petani Myanmar Sukar Penuhi Kebutuhan Imbas Naiknya Biaya Pertanian

Jakarta, VokalOnline.Com - Sejumlah petani di Myanmar mengaku mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidup bagi dirinya dan anggota keluarga karena meningkatnya beban biaya yang diperlukan di sektor pertanian.
Seorang petani bernama Nyo Win menyatakan kepada Xinhua, selama 30 tahun bertani padi di wilayah Ayeyarwady di Myanmar, dirinya telah melewati banyak masa sulit.
Namun, dengan meningkatnya berbagai biaya setiap hari menyusul panen yang buruk, kesengsaraannya saat ini terasa seperti kesulitan yang paling berat. Harga pupuk dan solar, andalan dalam budi daya padi, belum pernah setinggi sekarang di daerah itu.
Nyo, seorang ayah dari empat anak, menuturkan kepada Xinhua bahwa tahun ini dia hampir tidak menghasilkan uang sama sekali.
Maret 2022 lalu, para petani terpaksa membiarkan padi-padi mereka membusuk karena hancur oleh badai tropis, sebuah fenomena yang kian lazim terjadi di wilayah itu sejak Topan Nargis menjadi tajuk berita pada 2008.
Dua tahun lalu, sebelum COVID-19, harga satu karung pupuk seberat 50 kilogram mencapai 20.000 kyat Myanmar (1 kyat Myanmar = Rp7,85). Saat ini, harganya sudah melampaui 60.000 kyat dan kenaikan harga tidak menunjukkan tanda-tanda akan mereda. "Situasi saat ini sangat berat bagi kami. Saya tidak tahu berapa lama ini akan berlangsung," kata Nyo kepada Xinhua.
Tint Lwin, seorang petani lainnya, mengalami situasi serupa. Dia harus mengurangi penggunaan pupuk hingga separuh. "Biaya saya terus naik. Saya berharap dengan mengurangi pemakaian pupuk, padi saya masih bisa bersaing. Yang jelas, panen saya berikutnya pasti akan turun," ujarnya. (Xinhua)
Jawaban pemerintah adalah bahwa para petani harus menggunakan pupuk organik buatan dalam negeri dengan lebih baik, serta mengurangi pengeluaran untuk bahan kimia impor.
Para petani sendiri tidak melihat ini sebagai solusi untuk masalah mereka. Biaya telah dikeluarkan dan yang mereka butuhkan adalah bayaran yang lebih tinggi untuk panen mereka, dengan cara apa pun yang memungkinkan.
Aung Thu, seorang petani berusia 30-an awal, mengatakan kepada Xinhua bahwa harga semua komoditas meningkat. "Satu barel solar yang dua tahun lalu harganya sekitar 90.000 kyat hari ini harganya hampir 400.000 kyat," keluhnya dan menambahkan bahwa petani benar-benar kesulitan dan keadaan hanya semakin buruk.
Sekitar 70 persen rakyat Myanmar tinggal di daerah pedesaan dan bergantung pada pertanian. Pada 2019-2020, pertanian menyumbang 38 persen dari ekspor negara tersebut. **Fira
Berita Terkait :
- AP II Paparkan Kesiapan Layani Penerbangan Jamaah Haji mulai 4 Juni0
- BPS Sebut Telur Ayam Ras Hingga Bawang Merah Picu Inflasi Mei0
- DEN Dukung Upaya RI Menuju \"Net Zero Emission\" Pada 20600
- Krisis Pangan Sri Lanka Makin Jadi, Petani Didesak Tanam Padi0
- IHSG Diperkirakan Bergerak Variatif Cenderung Melemah0
Write a Facebook Comment
Tuliskan Komentar anda dari account Facebook
View all comments
_Black11.png)









