Pilu Bayi 2 Bulan di Gaza Meninggal karena Kelaparan Akut

Publisher Vol/fit Internasional
25 Feb 2024, 20:50:56 WIB
Pilu Bayi 2 Bulan di Gaza Meninggal karena Kelaparan Akut

Jakarta, VokalOnline.Com - Bayi Palestina berusia dua bulan meninggal dunia karena kelaparan di tengah agresi Israel di Gaza. Bayi laki-laki malang itu bernama Mahmoud Fattouh.

Ia meninggal karena kelaparan ketika PBB telah memperingatkan akan adanya 'ledakan' kematian anak-anak Gaza karena kekurangan makanan dan air imbas agresi Israel.

Kantor berita Shehab melaporkan Mahmoud Fattouh meninggal di Rumah Sakit Al-Shifa di Kota Gaza pada hari Jumat (23/2).

Rekaman yang diverifikasi oleh Al Jazeera menunjukkan bayi kurus itu terengah-engah di ranjang rumah sakit. Salah satu paramedis yang membawa bocah itu ke rumah sakit mengatakan Mahmoud meninggal karena kekurangan gizi akut.

"Kami melihat seorang wanita menggendong bayinya sambil berteriak minta tolong. Bayinya yang pucat sepertinya sedang menghembuskan nafas terakhirnya," kata paramedis dalam video tersebut, seperti dilansir Al Jazeera, Minggu (25/2).

"Kami membawanya ke rumah sakit dan dia ditemukan menderita kekurangan gizi akut. Staf medis membawanya ke ICU. Bayi tersebut tidak diberi susu selama berhari-hari, karena susu bayi sama sekali tidak ada di Gaza," lanjutnya.

Kematian Mahmoud terjadi ketika pemerintah Israel terus mengabaikan seruan global untuk mengizinkan lebih banyak bantuan masuk ke wilayah kantong yang diblokade militer Negeri Zionis tersebut.

PBB mengatakan sekitar 2,3 juta orang di Gaza kini berada di ambang kelaparan. Israel memutus semua pasokan makanan, air dan bahan bakar ke Gaza pada awal perang, namun membuka satu titik masuk untuk bantuan kemanusiaan pada Desember 2023 setelah negosiasi dengan Hamas.

Namun, lembaga-lembaga bantuan mengatakan pemeriksaan ketat yang dilakukan pasukan Israel dan protes yang dilakukan oleh demonstran sayap kanan di persimpangan Kerem Shalom telah menghambat masuknya truk makanan ke Gaza.

Ketika pasokan sampai ke Gaza, pekerja bantuan mengatakan mereka tidak dapat mengambil barang atau mendistribusikannya karena kurangnya keamanan, yang sebagian disebabkan oleh pembunuhan yang ditargetkan oleh Israel terhadap polisi yang menjaga truk utusan tersebut.

Situasi ini sangat menyedihkan di bagian utara Gaza, yang hampir sepenuhnya terputus dari bantuan sejak akhir Oktober 2023.

Para dokter di sana melaporkan peningkatan tajam angka kekurangan gizi di kalangan anak-anak, terutama bayi baru lahir.

Dr Hussam Abu Safiya, kepala Rumah Sakit Kamal Adwan di Gaza utara, menggambarkan situasi kesehatan di sana sangat buruk.

"Tanda-tanda kelemahan dan pucat terlihat pada bayi baru lahir karena ibunya kekurangan gizi," kata Abu Safiya kepada Al Jazeera.

"Sayangnya banyak anak yang meninggal dalam beberapa minggu terakhir, jika kita tidak segera mendapatkan bantuan yang tepat, kita akan semakin menderita akibat kekurangan gizi," ucapnya.

Meskipun situasi sangat buruk, badan-badan PBB belum memberikan bantuan. Program Pangan Dunia (WFP) mencoba melanjutkan pengiriman ke Gaza utara pada pekan lalu, namun mengumumkan penangguhan tersebut dua hari kemudian, dengan alasan ditembali militer Israel dan warga yang tak lagi bisa menahan lapar lalu mengerumuni truk untuk berebut makanan.(fit)**

Berita Terkait :




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment