- Pemkab Siak dan Utusan Presiden Luruskan Informasi Dokter Spesialis, Pelayanan Harus Tetap Berjalan
- Hendry Munief Dorong Pengusaha Muslimah Kembangkan Sektor UMKM dan Ekraf
- Reskrim Polsek Tebing Tinggi Amankan Pelaku Pencurian di Ruko Jalan Tanjung Harapan
- Sambut Hari Bhakti Pemasyarakatan ke-62, Lapas Tembilahan Gelar Donor Darah Bersama
- Polres Inhil Ungkap Kasus Peredaran Sabu di Batang Tuaka, Satu Pengedar Diamankan
- Polres Inhil Ungkap Kasus Peredaran Sabu, Seorang Pengedar Diamankan di Tembilahan
- Polsek Kempas Ungkap Kasus Narkotika di Desa Danau Pulai Indah, Satu Pelaku Diamankan
- Kabar Duka, Sekjen PWI Zulmansyah Sekedang Meninggal Dunia
- WKC Open Championship II 2026 Sukses Digelar, Inkai Prestasi Sabet Juara Umum
- Di Hadapan Perwakilan 150 Negara, Dr. Syahrul Aidi Kecam Keras Tindakan Israel di Timur Tengah
Sederet Fenomena Langit Oktober: Hujan Meteor hingga Gerhana Matahari

Fenomena alam sepanjang Oktober di antaranya, hujan meteor. (Reuters/Carlos Barris)
Jakarta, VokalOnline.Com - Sejumlah fenomena langit akan terjadi selama Oktober, mulai dari hujan meteor hingga gerhana Matahari.
Oktober akan dihiasi oleh dua hujan meteor, yakni Hujan Meteor Draconid dan Hujan Meteor Orionid. Selain dua hujan meteor tersebut, langit bulan ini juga akan dihiasi oleh pemandangan gerhana Matahari dan gerhana Bulan.
Hujan Meteor Draconid (7 Oktober)
Draconid akan menghiasi langit pada pekan pertama Oktober, tepatnya pada Sabtu (7/9). Hujan meteor ini merupakan fenomena tahunan yang selalu terjadi di awal Oktober.
Dikutip dari Seasky, Draconids adalah hujan meteor minor yang hanya menghasilkan sekitar 10 meteor per jam. Hujan meteor ini dihasilkan oleh butiran debu yang ditinggalkan oleh komet 21P Giacobini-Zinner, yang pertama kali ditemukan pada tahun 1900.
Hujan meteor Draconids merupakan hujan meteor yang tidak biasa karena waktu terbaik untuk menyaksikannya adalah pada malam hari, bukannya pagi hari seperti kebanyakan hujan meteor lainnya.
Hujan meteor ini berlangsung setiap tahun dari tanggal 6-10 Oktober dan puncaknya tahun ini terjadi pada malam hari tanggal 7 Oktober.
Fase Bulan yang hanya seperempat akan membuat langit cukup gelap pada malam hari sehingga hujan meteor ini lebih mudah dinikmati.
Pengamatan terbaik untuk fenomena ini bisa didapatkan pada malam hari dari lokasi yang gelap dan jauh dari cahaya kota. Meteor akan memancar dari rasi Draco, tapi bisa muncul di mana saja di langit.
Gerhana Matahari Cincin Api (14 Oktober)
Gerhana Matahari Cincin Api akan menghiasi langit pada 14 Oktober, bertepatan dengan fase Bulan baru.
Gerhana Matahari Cincin Api terjadi ketika Bulan berada terlalu jauh dari Bumi untuk sepenuhnya menutupi Matahari. Hal ini menghasilkan cincin cahaya di sekeliling Bulan yang gelap.
Jalur gerhana akan dimulai di Samudra Pasifik di lepas pantai Kanada bagian selatan dan melintasi Amerika Serikat bagian barat daya dan Amerika Tengah, Kolumbia, dan Brasil. Gerhana parsial akan terlihat di sebagian besar Amerika Utara dan Selatan.
Sayangnya, fenomena langit ini tidak dapat terlihat dari Indonesia dan hanya bisa dilihat oleh pengamat di wilayah Amerika.
Hujan Meteor Orionid (21-22 Oktober)
Hujan meteor kedua pada Oktober akan terjadi pada 21-21 Oktober, yaitu Hujan Meteor Orionid.
Sama seperti Draconid, Orionid merupakan hujan meteor tahunan yang terjadi setiap Oktober. Orionid adalah hujan meteor yang menghasilkan hingga 20 meteor per jam pada puncaknya.
Hujan meteor ini dihasilkan oleh butiran debu yang ditinggalkan oleh komet Halley, yang telah dikenal dan diamati sejak zaman kuno. Hujan meteor ini berlangsung setiap tahun dari tanggal 2 Oktober hingga 7 November.
Pada tahun ini, puncaknya akan terjadi pada 21 Oktober malam dan pagi hari 22 Oktober.
Meteor akan memancar dari rasi Orion, tapi bisa muncul di mana saja di langit.
Elongasi terbesar Venus (23 Oktober)
Planet Venus akan mencapai elongasi timur terbesar yaitu 46,4 derajat dari Matahari pada 23 Oktober. Ini merupakan waktu terbaik untuk melihat Venus karena planet ini akan berada pada titik tertingginya di atas cakrawala pada pagi hari.
Pengamat hanya perlu mencari titik yang paling terang di langit timur sebelum Matahari terbit.
Gerhana Bulan Sebagian (28 Oktober)
Akhir Oktober akan dihiasi oleh pemandangan Gerhana Bulan Sebagian. Gerhana Bulan Sebagian terjadi ketika Bulan melewati sebagian bayangan Bumi, atau penumbra, dan hanya sebagian saja yang melewati bayangan paling gelap, atau umbra.
Selama gerhana jenis ini, sebagian Bulan akan menjadi gelap saat bergerak melewati bayangan Bumi. Gerhana ini akan terlihat di seluruh Eropa, Asia, dan Afrika, serta Australia bagian barat.(fit)**
Berita Terkait :
- Tak Perlu lagi instalasi, Photoshop akan Hadir dengan Versi Web dengan fitur secara gratis0
- Aplikasi Super APP Presisi, Kapolres : Silahkan Diunduh agar Masyarakat Mudah dapat Informasi0
- Menkominfo Budi Arie Apresiasi Semua News Riau Bangun Infrastruktur Komunikasi0
- Samsung Galaxy Z Fold5: Solusi Produktivitas untuk Pekerja Modern0
- Pakar Minta Blokir IMEI Ilegal Cuma Berlaku di Hp yang Belum Terpakai0
_Black11.png)









