Breaking News
- Diskusi dengan Wartawan, Syahrul Aidi Dorong Solusi Krisis Media Massa
- Gaungkan Semangat Hari Bumi, PEP Lirik Ajak Masyarakat Ubah Sampah Jadi Bernilai
- Pemkab Kuansing dan RAPP Perkuat Sinergi Percepatan Penurunan Stunting
- 21 Perkara Inkracht Dimusnakan Barang Bukti di Kejari Meranti
- 110 Jemaah Calon Haji Meranti Akan Berangkatkan Senin di Embarkasi Batam
- Rianto SH, MH Disorot, 70-an Peserta Ramaikan Seleksi KI Sumut 2026
- FORKI Riau Fokus TC Penuh Jelang Kejurnas Bandung, Perangkingan Atlet Digelar 26 April
- Temui Menteri ATR/BPN dan Dirjen Migas, Bupati Afni Perjuangkan Hak Rakyat Kandis dan Minas
- Pengedar Ganja di Banglas Dibekuk Berkat Layanan 110, Polisi Amankan BB dan Tes Urine Positif
- Stok BBM Kepulauan Meranti Aman, Warga Diimbau Beli di SPBU Sesuai Ketentuan UUD 1945
220 Ribu Hektare Hutan Mangrove Riau Perlu Diselamatkan

Penanaman bibit mangrove di Kota Dumai beberapa waktu lalu. IST
PEKANBARU (VOKALONLINE.COM) - Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) menyatakan ada 600 ribu hektare hutan mangrove di Indonesia kritis. Provinsi Riau paling banyak di mana saat ini ada sekitar 220 ribu hektare mangrove rusak.
Kepala BRGM Hartono Prawiraatmaja mengatakan, tahun ini pihaknya menargetkan 21 ribu hektare restorasi mangrove. Sebagiannya dilakukan sebelum lebaran dan sisanya sesudah hari raya umat Islam itu.
Target restorasi mangrove tersebut tersebar di Kota Dumai, Kabupaten Bengkalis, Siak, Kepulauan Meranti, Rokan Hilir dan Pelalawan. Target itu memang kecil dibanding jumlah mangrove kritis di Bumi Lancang Kuning.
"Kami pilih yang clean dulu, tidak ada permasalahan di situ, ibarat memetik buah mangga, dipilih yang mudah dulu," kata Hartono di Pekanbaru, Jum'at siang, 23 April 2021.
Hartono menjelaskan, restorasi mangrove hampir sama peliknya dengan gambut karena banyak kepentingan dan melibatkan ragam instansi. Apalagi mangrove juga menjadi sumber ekonomi bagi masyarakat pesisir.
"Di samping itu anggarannya juga terbatas," ucap Hartono.
Di sisi lain, mencari bibit mangrove tidak semudah dibayangkan. Bibit mangrove hanya bisa didapatkan pada April dan harus menunggu hingga September jika tak diperoleh.
"Sifatnya musiman, kalau terlambat di April maka harus menunggu musim berikutnya yaitu September," ucap Hartono.
Dalam restorasi nanti, BRGM akan melibatkan sejumlah kementerian. Salah satunya Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi karena juga punya wilayah kerja soal mangrove.
Melibatkan desa dalam restorasi mangrove juga lebih efektif. Kepedulian masyarakat desa dalam restorasi mangrove bisa mencegah kerusakan lebih parah.
Hartono menerangkan, kerusakan mangrove sebagian besar disebabkan ulah manusia. Biasanya, pohon mangrove ditebangi untuk dijadikan arang lalu diekspor ke luar negeri.
"Berikutnya, masyarakat menebang hutan Mangrove di pantai lalu membuat tambak ikan," jelas Hartono.
Menurut Hartono, hal-hal seperti harus diperhatikan karena mangrove sudah menjadi sumber ekonomi. Sebagai jalan tengah, BRGM melakukan restorasi tanpa menganggu perekonomian masyarakat.
"Nanti ada kolaborasi untuk memperbaiki lingkungan dan menjaga ekonomi masyarakat," kata Hartono.
Hartono menyebut kerusakan mangrove di Riau harus segera dilakukan. Pihaknya tak ingin mangrove di Riau bernasib serupa dengan mangrove di Pulau Jawa.
"Banyak di Pulau Jawa sudah hilang, tak bisa dipulihkan lagi," jelas Hartono. (syu)
Berita Terkait :
- 200 Imam Masjid Paripurna Pekanbaru Bakal Divaksin0
- Pemkab Rohil Berlakukan PPKM Mikro 0
- Gawat, Angka Kematian Akibat Covid-19 di Riau Tertinggi di Sumatra0
- HMMM.....Gubernur Riau Juga Larang Masyarakat Mudik Lokal0
- Belasan Orang Serang Petugas Bea Cukai di Jalan Juanda Pekanbaru0
Write a Facebook Comment
Tuliskan Komentar anda dari account Facebook
View all comments
_Black11.png)









