- Pemkab Kuansing dan RAPP Perkuat Sinergi Percepatan Penurunan Stunting
- 21 Perkara Inkracht Dimusnakan Barang Bukti di Kejari Meranti
- 110 Jemaah Calon Haji Meranti Akan Berangkatkan Senin di Embarkasi Batam
- Rianto SH, MH Disorot, 70-an Peserta Ramaikan Seleksi KI Sumut 2026
- FORKI Riau Fokus TC Penuh Jelang Kejurnas Bandung, Perangkingan Atlet Digelar 26 April
- Temui Menteri ATR/BPN dan Dirjen Migas, Bupati Afni Perjuangkan Hak Rakyat Kandis dan Minas
- Pengedar Ganja di Banglas Dibekuk Berkat Layanan 110, Polisi Amankan BB dan Tes Urine Positif
- Stok BBM Kepulauan Meranti Aman, Warga Diimbau Beli di SPBU Sesuai Ketentuan UUD 1945
- Pasutri Diringkus Sat Resnarkoba Polres Kep Meranti, Diduga Jadi Pengedar Ekstasi
- Pemkab Siak dan Utusan Presiden Luruskan Informasi Dokter Spesialis, Pelayanan Harus Tetap Berjalan
70 Rudal Rusia Bombardir Ukraina dalam Sehari, Zelensky Desak PBB

Jakarta, VokalOnline.Com - Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mendesak Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk bertindak tegas usai 70 rudal Rusia membombardir Ukraina.
"Hari ini, hanya satu hari tetapi kami menerima 70 rudal. Itu rumus teror Rusia," kata Zelensky saat pidato virtual di depan Dewan Keamanan PBB, Rabu (23/11), seperti dikutip dari Reuters.
Zelensky juga menerangkan bahwa rudal Moskow menghancurkan infrastruktur seperti rumah sakit, sekolah, transportasi, dan memaksa menutup pembangkit listrik tenaga nuklir.
Tujuan Rusia di bawah rezim Presiden Vladimir Putin, menurut Zelensky, untuk menambah derita rakyat Ukraina selama musim dingin sehingga berisiko mati beku.
Ukraina, lanjut dia, menunggu aksi tegas atas serangan brutal Rusia di Ukraina.
Zelensky juga meminta Rusia tak turut memberikan suara usai rekam jejak mereka di negara tetangganya selama sembilan bulan ini.
"Kami tak bisa menjadi sandera teroris internasional. Rusia melakukan semuanya untuk membuat generator energi lebih kuat dari Piagam PBB," kata dia.
Sementara itu, dalam rapat Duta Besar Amerika Serikat untuk PBB, Linda Thomas-Greenfield, mengatakan Presiden Rusia Vladimir Putin jelas menjadikan musim dingin sebagai 'senjata' untuk membuat warga Ukraina semakin menderita.
"[Putin] akan berusaha membekukan negara itu [Ukraina] untuk tunduk," ungkap Greenfield.
Di sisi lain, Duta Besar Rusia untuk PBB, Vasly Nebenzya, merespons seruan Zelensky dan menyebut ancaman serta ultimatum dia sembrono.
Nebenzya juga mengatakan kerusakan infrastruktur di Ukraina disebabkan penembakan peluru kendali dari sistem pertahanan udara. Rudal itu kemudian jatuh di area penduduk dan merusak berbagai bangunan.
Ia lantas meminta Barat berhenti menyuplai sistem pertahanan udara ke Ukraina.
Rusia telah menginvasi Ukraina selama sembilan bulan sejak Februari lalu. Sepanjang rentang waktu itu, pertempuran terus terjadi.
Baru-baru ini, Ukraina berhasil memukul mundur Rusia di Kota Kherson.**syafira
Berita Terkait :
- Korban Luka Gempa M 5,9 di Duzce Turki Jadi 50 Orang0
- Kanada Selidiki Kantor Polisi China Buntut Dugaan Campur Tangan0
- Iran Kian Dekat Bikin Bom Nuklir, AS-Israel Ketar-ketir0
- Taliban Hukum Cambuk Belasan Warga Afghanistan0
- Warga Jepang Berhemat, Menjerit Harga-harga Meroket akibat Inflasi0
_Black11.png)









