- Ketika Seragam Polri Basah Keringat Demi Rakyat, Sejumlah Jembatan Inhil Rampung Tanpa Kendala
- Bupati Asmar Lepas Calon Haji Meranti, Ingatkan Fokus Ibadah di Tanah Suci
- Polsek Tebing Tinggi Beraksi Berhasil Sikat Pengedar Sabu 18,87 Gram
- FORKI Riau Kirim 5 Karateka ke Kejurnas Bandung, TC Penuh Dimulai di GOR Rumbai
- JK, Kerusuhan Poso, dan Dramatisasi di Era Algoritma
- Hendry Munief: Lampung Tak Lagi Sekadar Gerbang, Kini Menuju Pusat Ekonomi
- Penguatan Kesiapsiagaan Hadapi Musim Kemarau dan El Nino, Pemerintah Gelar Apel Siaga Karhutla
- Diskusi dengan Wartawan, Syahrul Aidi Dorong Solusi Krisis Media Massa
- Gaungkan Semangat Hari Bumi, PEP Lirik Ajak Masyarakat Ubah Sampah Jadi Bernilai
- Pemkab Kuansing dan RAPP Perkuat Sinergi Percepatan Penurunan Stunting
Dari Balik Penjara Perianus Dapatkan Hidayah

Narapidana kasus pembunuhan belajar mengaji di Rutan Pekanbaru. IST
PEKANBARU, VokalOnline.Com -Hidayah datang dari mana saja, termasuk dari balik jeruji besi. Seperti jalan spritual yang dialami oleh narapidana bernama Perianus di Rutan Pekanbaru, Kecamatan Tenayanraya.
Dulunya, terpidana 11 tahun penjara menghilangkan nyawa manusia atau kasus pembunuhan. Dia ditangkap, diadili dan sudah 1 tahun 8 bulan menjalani hukuman.
Hatinya tergerak menjadi mualaf setelah satu kamar dengan narapidana muslim. Setiap hari, dia mendengar lantunan ayat Al-Quran yang membuat hatinya tenang.
"Akhirnya saya tergerak belajar dari teman satu kamar, semakin saya ingin tahu tentang Islam, semakin saya merasakan ketenangan hati," ucapnya.
Bak gayung bersambut, di Rutan Pekanbaru ternyata ada Pondok Pesantren Al-Hidayah. Di sana ada ratusan narapidana nyantri setiap hari mendalami agama.
"Hati saya makin kuat setelah bergabung di pondok pesantren," terang Perianus.
Setelah itu, hati Perianus makin mantap berpindah keyakinan. Diapun dipandu oleh Imam Mesjid Al Hidayah mengucapkan Dua kalimat syahadat, disaksikan ratusan narapidana lainnya.
Sebagai seorang muslim, Perianus diwajibkan untuk berkhitan. Sunat ini dilakukannya di Poliklinik Pratama Rutan Pekanbaru dan disaksikan oleh petugas dan Pimpinan Ponpes Al Hidayah.
Menjadi mualaf, Perianus mengaku belum bisa membaca Al-Quran. Saat ini, Perianus masih belajar mengaji dengan metode Iqro.
Mualafnya Perianus menambah daftar narapidana memutuskan pindah keyakinan. Tahun ini sudah ada 5 narapidana lainnya menjadi mualaf dan dikhitan di Rutan Pekanbaru.
Jumlah santri di Pondok Pesantren Al Hidayah saat ini sebanyak 102 orang.
Melalui pondok pesantren, para santri diajarkan banyak ilmu tentang Islam di antaranya ilmu fiqih, bahasa arab, tahfiz quran, tajwid, tahsin, muhadaroh, hadist, tausyiah, kajian-kajian ilmu, adab harian dan murotal.
Kepala Rutan Pekanbaru M Lukman mendukung penuh warga binaan pemasyarakatan menjadi lebih baik sesuai keinginan dan pilihan hatinya.
"Kami siap menemani serta memberikan bimbingan kepada WBP yang ingin memeluk Islam dan menjadi santri Rutan Pekanbaru," tutur Lukman.
Bagi Lukman, penjara tak hanya menghukum para penjahat, namun juga menjadi tempat yang mendatangkan hidayah.
"Jadi, tak selamanya masuk penjara itu musibah, mari kita ambil hikmah, semoga hidup kita kedepannya menjadi berkah," ucap Lukman.
"Asalkan warga binaan serius menyesali perbuatannya melanggar hukum, mudah-mudahan setelah keluar menjadi manusia lebih baik lagi bahkan lebih bermanfaat bagi masyarakat," tutur Lukman. (syu)
Berita Terkait :
- Surya Darmadi Didakwa Rugikan Negara Rp 86,5 Triliun 0
- Kamera Rekam Harimau Pemakan Pekerja0
- Indeks KUB Riau Rendah0
- Mahasiswa Geruduk Gedung DPRD Riau Tiga Tuntutan Ini harus Dipenuhi Pemerintah0
- Anggaran Pengangkutan Sampah di Pekanbaru Capai Rp80 Miliar0
_Black11.png)









