- Bupati Asmar Lepas Calon Haji Meranti, Ingatkan Fokus Ibadah di Tanah Suci
- Polsek Tebing Tinggi Beraksi Berhasil Sikat Pengedar Sabu 18,87 Gram
- FORKI Riau Kirim 5 Karateka ke Kejurnas Bandung, TC Penuh Dimulai di GOR Rumbai
- JK, Kerusuhan Poso, dan Dramatisasi di Era Algoritma
- Hendry Munief: Lampung Tak Lagi Sekadar Gerbang, Kini Menuju Pusat Ekonomi
- Penguatan Kesiapsiagaan Hadapi Musim Kemarau dan El Nino, Pemerintah Gelar Apel Siaga Karhutla
- Diskusi dengan Wartawan, Syahrul Aidi Dorong Solusi Krisis Media Massa
- Gaungkan Semangat Hari Bumi, PEP Lirik Ajak Masyarakat Ubah Sampah Jadi Bernilai
- Pemkab Kuansing dan RAPP Perkuat Sinergi Percepatan Penurunan Stunting
- 21 Perkara Inkracht Dimusnakan Barang Bukti di Kejari Meranti
Ekonomi Jepang Minus 0,3 Persen pada Kuartal III 2023

Vokalonline.Com- Pertumbuhan ekonomi Jepang turun 1,2 persen menjadi minus 0,3 persen pada kuartal III 2022 (year on year/yoy). Ekonomi ini jauh lebih rendah dibandingkan kuartal II yang tumbuh 1,1 persen.
Kepala Ekonom di Itochu Economic Research Institute Atsushi Takeda mengatakan pertumbuhan yang terkontraksi untuk pertama kalinya di tahun ini disebabkan oleh pelemahan yen yang terjadi di periode Juli-September.
Pelemahan yen itu membuat tekanan ekonomi Jepang yang sebelumnya sudah cukup kuat akibat perlambatan ekonomi global dan lonjakan inflasi semakin kuat. Lalu ditambah dengan dengan yen yang turun ke posisi terendah dalam 32 tahun terakhir, menambah tekanan itu.
"Ini adalah akibat kontraksi tak terduga," ujarnya dikutip dari CNN, Selasa (15/11).
Selain itu, kontraksi juga disebabkan oleh impor yang lebih tinggi dari perkiraan. Padahal, di tengah tekanan itu, sektor penopang perekonomian seperti konsumsi, belanja modal, serta ekspor tumbuh tapi di bawah perkiraan.
"Tiga pilar utama permintaan atau konsumsi, belanja modal, dan ekspor tetap berada di wilayah positif, tapi tidak sekuat perkiraan," imbuhnya.
Pada kuartal III ini, konsumsi tumbuh 0,03 persen, melambat dibandingkan kuartal II yang terealisasi 1,2 persen. Kemudian, investasi non perumahan naik 1,5 persen dan ekspor tumbuh 1,9 persen.
Sebelumnya, pelemahan yen Jepang terhadap dolar AS memicu kenaikan harga berbagai barang dan biaya hidup masyarakatnya. Ini menambah tekanan ke inflasi yang telah melonjak sejak awal tahun.
Kondisi perekonomia yang tertatih-tatih ini membuat Jepang makin dekat dengan ambang resesi.**Syafira
Berita Terkait :
- Korsel Bakal Bangun Sistem Air Bersih di IKN0
- Crazy Rich Mackenzie Scott Donasi Rp31 T dalam 7 Bulan Terakhir0
- Harga Kripto Bangkit Berjemaah, XRP Melonjak di Atas 10 Persen0
- Utang Luar Negeri RI Turun Jadi US$394,6 M Kuartal III 20220
- Pemerintah Luncurkan Global Blended Finance Alliance di KTT G200
_Black11.png)









