- Hendry Munief Dorong Pengusaha Muslimah Kembangkan Sektor UMKM dan Ekraf
- Reskrim Polsek Tebing Tinggi Amankan Pelaku Pencurian di Ruko Jalan Tanjung Harapan
- Sambut Hari Bhakti Pemasyarakatan ke-62, Lapas Tembilahan Gelar Donor Darah Bersama
- Polres Inhil Ungkap Kasus Peredaran Sabu di Batang Tuaka, Satu Pengedar Diamankan
- Polres Inhil Ungkap Kasus Peredaran Sabu, Seorang Pengedar Diamankan di Tembilahan
- Polsek Kempas Ungkap Kasus Narkotika di Desa Danau Pulai Indah, Satu Pelaku Diamankan
- Kabar Duka, Sekjen PWI Zulmansyah Sekedang Meninggal Dunia
- WKC Open Championship II 2026 Sukses Digelar, Inkai Prestasi Sabet Juara Umum
- Di Hadapan Perwakilan 150 Negara, Dr. Syahrul Aidi Kecam Keras Tindakan Israel di Timur Tengah
- Sambu Group Satukan Petani dan Industri dalam Kenduri Kelapa 2026
Erdogan di OKI: Perlu Gencatan Senjata Permanen, Bukan Cuma Jeda

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menegaskan diperlukannya gencatan senjata permanen terkait agresi Israel ke Palestina, bukan jeda yang hanya beberapa jam. (VIA REUTERS/SAUDI PRESS AGENCY)
Jakarta, VokalOnline.Com - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menegaskan diperlukannya gencatan senjata permanen terkait agresi Israel ke Palestina, bukan jeda kemanusiaan yang hanya beberapa jam.
Pernyataan itu terungkap saat Erdogan berpidato di konferensi tingkat tinggi (KTT) luar biara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) di Riyadh, Arab Saudi, pada Sabtu (11/11).
Erdogan menyerukan konferensi perdamaian internasional untuk menemukan solusi permanen atas konflik Israel dan Palestina.
"Apa yang kita butuhkan di Gaza bukanlah jeda selama beberapa jam, melainkan kita memerlukan gencatan senjata permanen," kata Erdogan, dikutip Reuters.
Israel dan sekutunya, Amerika Serikat, menyerukan jeda kemanusiaan selama empat jam per hari di Gaza.
Dalam kesempatan itu, Erdogan mengkritik negara-negara Barat seperti Amerika Serikat dan Inggris yang gencar mengkampanyekan hak asasi manusia, tetapi bisu soal Palestina.
"Sangat disayangkan bahwa negara-negara Barat, yang selalu berbicara tentang hak asasi manusia dan kebebasan, tetap diam dalam menghadapi pembantaian yang sedang berlangsung di Palestina," ujar dia.
OKI menggelar pertemuan darurat untuk membahas situasi di Palestina yang kian mengkhawatirkan dan menentukan sikap negara Arab dan negara Muslim/mayoritas Muslim setelah agresi Israel.
Usai rapat kelar, OKI menghasilkan resolusi yang berisi 31 poin.
Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi menyebut, resolusi itu menjadi sikap paling keras yang pernah dikeluarkan OKI.
"Pesan-pesan yang ada di dalam resolusi ini, menurut hampir semua dari kita, merupakan pesan yang paling keras yang pernah dilakukan oleh OKI sejauh ini," ungkap Retno saat konferensi pers virtual, Minggu (12/11).
Beberapa poin dalam resolusi itu di antaranya mengecam agresi Israel di Gaza, mendesak Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) untuk bertindak menghasilkan resolusi sehingga kekejaman bisa segera diakhiri, bantuan bisa masuk, dan pentingnya mematuhi hukum internasional.
Resolusi itu juga mendesak DK PBB untuk mengeluarkan resolusi dan mengecam perusakan rumah sakit di Gaza oleh Israel.
Beberapa forum juga akan digunakan untuk menuntut pertanggungjawaban Israel melalui Pengadilan Kriminal Internasional (ICC), Mahkamah Internasional (ICJ), dan Dewan HAM.
Selain itu, resolusi OKI juga mengecam standar ganda dalam menerapkan hukum internasional, dan pengusiran 1,5 juta warga Palestina dari utara ke selatan Gaza. Berdasarkan Konvensi Jenewa ke-4, tindakan tersebut merupakan kejahatan perang.
Resolusi tersebut juga mendorong dimulainya proses perdamaian yang sungguh-sungguh untuk mencapai perdamaian berdasarkan solusi dua negara.
Turki merupakan salah satu negara yang mendukung kemerdekaan Palestina dan mengutuk agresi Israel.
Saat Rumah Sakit Baptis Al Ahli dibom Israel pada 27 Oktober, Erdogan menetapkan hari berkabung selama tiga hari di Turki. Langkah ini sebagai bentuk solidaritas negara tersebut untuk warga Palestina yang menjadi korban.
Erdogan juga menyebut Israel sebagai 'penjahat perang' usai pengeboman di RS tersebut.
Israel melancarkan agresi ke Gaza sejak 7 Oktober. Mereka juga menyerang warga dan objek sipil seperti rumah sakit, sekolah, hingga tempat ibadah.
Imbas gempuran pasukan Zionis ini, lebih dari 11 ribu orang meninggal. Dari jumlah tersebut, sekitar 4 ribu di antaranya merupakan anak-anak.
Organisasi dan komunitas internasional berulang kali menyerukan gencatan senjata, tetapi desakan itu hingga kini belum terwujud.(fit)**
Berita Terkait :
- Satu Keluarga WNI dari Gaza Selatan Palestina Berhasil Dievakuasi0
- Seberapa Panjang Jaringan Terowongan Metro Gaza Buatan Hamas?0
- Erdogan Ogah Temui Menlu AS Blinken di Turki0
- Dokter Anestesi Palestina Lulusan UNS RI Tewas Kena Bombardir Israel0
- Seberapa Kuat Hamas Bertahan Melawan Gempuran Israel di Gaza?0
_Black11.png)









