- Diskusi dengan Wartawan, Syahrul Aidi Dorong Solusi Krisis Media Massa
- Gaungkan Semangat Hari Bumi, PEP Lirik Ajak Masyarakat Ubah Sampah Jadi Bernilai
- Pemkab Kuansing dan RAPP Perkuat Sinergi Percepatan Penurunan Stunting
- 21 Perkara Inkracht Dimusnakan Barang Bukti di Kejari Meranti
- 110 Jemaah Calon Haji Meranti Akan Berangkatkan Senin di Embarkasi Batam
- Rianto SH, MH Disorot, 70-an Peserta Ramaikan Seleksi KI Sumut 2026
- FORKI Riau Fokus TC Penuh Jelang Kejurnas Bandung, Perangkingan Atlet Digelar 26 April
- Temui Menteri ATR/BPN dan Dirjen Migas, Bupati Afni Perjuangkan Hak Rakyat Kandis dan Minas
- Pengedar Ganja di Banglas Dibekuk Berkat Layanan 110, Polisi Amankan BB dan Tes Urine Positif
- Stok BBM Kepulauan Meranti Aman, Warga Diimbau Beli di SPBU Sesuai Ketentuan UUD 1945
Harga Minyak Dunia Naik ke US$96 Usai The Fed Kerek Suku Bunga

VokalOnline.Com - Harga minyak mentah dunia naik pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB). Kenaikan harga dikarenakan penurunan pasokan minyak mentah AS, plus sentimen kenaikan suku bunga The Fed.
Mengutip Antara, Kamis (3/11), Badan Informasi Energi AS (EIA) merilis bahwa persediaan minyak mentah AS turun 3,1 juta barel selama sepekan yang berakhir pada 28 Oktober. Lebih besar dari perkiraan analis di angka 1,6 juta barel.
Harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Desember naik US$1,63 atau 1,8 persen menjadi US$90 per barel di New York Mercantile Exchange.
Sedangkan, minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Januari menguat US$1,51 atau 1,6 persen, menjadi US$96,16 per barel di London ICE Futures Exchange.
Pasar minyak mempertahankan reli, bahkan ketika saham jatuh dan dolar AS menguat setelah Gubernur The Fed Jerome Powell mengatakan terlalu dini untuk berpikir tentang menghentikan kenaikan suku bunga.
"Pasti ada banyak fokus pada fundamental pasokan atau permintaan dan persediaan yang kami lihat pada rilis (EIA) hari ini dan tentang kapan sanksi Rusia dimulai," ujar pedagang energi senior di CIBC Private Wealth US Rebecca Babin.
Di lain sisi, embargo Uni Eropa terhadap minyak Rusia akan dimulai pada 5 Desember. Larangan tersebut adalah reaksi terhadap invasi Rusia ke Ukraina, yang akan diikuti dengan penghentian impor produk minyak pada Februari 2023.
Hal ini diperkirakan membatasi kemampuan Rusia untuk mengirimkan minyak mentah serta produk lain ke seluruh dunia dan itu dapat memperketat pasar.
Sementara, produksi dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) turun pada Oktober untuk pertama kalinya sejak Juni, yakni menjadi 1,36 juta barel per hari atau di bawah targetnya.**Syafira
Berita Terkait :
- Menhub Klaim Jepang, Korea, dan Inggris Akan Investasi di Proyek MRT0
- Kabar XL Axiata PHK Karyawan Dibantah Manajemen0
- Bappebti Respons soal Kripto Diatur OJK dalam RUU PPSK0
- Jokowi Tetapkan Sanur Jadi Kawasan Ekonomi Khusus0
- KSPI Tidak Benar Ada PHK 45 Ribu Buruh Tekstil0
_Black11.png)









