- Hendry Munief: Lampung Tak Lagi Sekadar Gerbang, Kini Menuju Pusat Ekonomi
- Penguatan Kesiapsiagaan Hadapi Musim Kemarau dan El Nino, Pemerintah Gelar Apel Siaga Karhutla
- Diskusi dengan Wartawan, Syahrul Aidi Dorong Solusi Krisis Media Massa
- Gaungkan Semangat Hari Bumi, PEP Lirik Ajak Masyarakat Ubah Sampah Jadi Bernilai
- Pemkab Kuansing dan RAPP Perkuat Sinergi Percepatan Penurunan Stunting
- 21 Perkara Inkracht Dimusnakan Barang Bukti di Kejari Meranti
- 110 Jemaah Calon Haji Meranti Akan Berangkatkan Senin di Embarkasi Batam
- Rianto SH, MH Disorot, 70-an Peserta Ramaikan Seleksi KI Sumut 2026
- FORKI Riau Fokus TC Penuh Jelang Kejurnas Bandung, Perangkingan Atlet Digelar 26 April
- Temui Menteri ATR/BPN dan Dirjen Migas, Bupati Afni Perjuangkan Hak Rakyat Kandis dan Minas
Harga Minyak Turun usai Rusia Kembali Pasok Hungaria

Jakarta, VokalOnline.Com - Harga minyak dunia turun sekitar satu persen pada perdagangan Rabu (16/11), waktu Amerika Serikat (AS), setelah naik tipis sehari sebelumnya.
Pelaku pasar masih mencermati persediaan bahan bakar AS setelah pengiriman minyak Rusia ke Hongaria yang tadinya dihentikan sementara kembali dilakukan.
Berdasarkan data London ICE Future Exchange yang dikutip dari Antara, Kamis (17/11), minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Januari turun US$1 per barel atau 1,1 persen menjadi US$92,86 per barel. Padahal, sehari sebelumnya naik US$0,72 per barel.
Senada, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Desember juga turun US$1,33 per barel atau 1,5 persen menjadi US$85,59 per barel di New York Mercantile Exchange. Sehari sebelumnya, harga naik US$1,05 dolar per barel.
Harga minyak sempat mendapatkan dorongan dari penghentian sementara pengiriman minyak Rusia ke Hungaria melalui pipa Druzhba. Namun, setelah penghentian sementara dicabut, harga kembali turun.
Selain itu, pasar juga mencermati data persediaan minyak di AS. Badan Informasi Energi (EIA) AS melaporkan bahwa persediazn minyak mentah negara itu turun 5,4 juta barel selama sepekan lalu.
Analisis yang disurvei oleh S&P Global Commodity Insights memperkirakan laporan itu akan menunjukkan penurunan 400 ribu barel dalam persediaan minyak mentah AS.
Sementara itu, OPEC pada Senin (14/11), memperkirakan permintaan minyak kembali turun pada 2022 dan 2023.**Syafira
Berita Terkait :
- Target Pertumbuhan Ekonomi China Diusulkan 5,5 Persen pada 20230
- Rusia Terperosok Jurang Resesi Imbas Perang Ukraina0
- Rupiah Lunglai ke Rp15.671 per Dolar AS Jelang Rilis Suku Bunga BI0
- Jokowi Kembali Blusukan ke Pasar usai Tutup KTT G200
- Harga Emas Bisa Tembus Rp1 juta per Gram Akhir Tahun0
_Black11.png)









