- Diskusi dengan Wartawan, Syahrul Aidi Dorong Solusi Krisis Media Massa
- Gaungkan Semangat Hari Bumi, PEP Lirik Ajak Masyarakat Ubah Sampah Jadi Bernilai
- Pemkab Kuansing dan RAPP Perkuat Sinergi Percepatan Penurunan Stunting
- 21 Perkara Inkracht Dimusnakan Barang Bukti di Kejari Meranti
- 110 Jemaah Calon Haji Meranti Akan Berangkatkan Senin di Embarkasi Batam
- Rianto SH, MH Disorot, 70-an Peserta Ramaikan Seleksi KI Sumut 2026
- FORKI Riau Fokus TC Penuh Jelang Kejurnas Bandung, Perangkingan Atlet Digelar 26 April
- Temui Menteri ATR/BPN dan Dirjen Migas, Bupati Afni Perjuangkan Hak Rakyat Kandis dan Minas
- Pengedar Ganja di Banglas Dibekuk Berkat Layanan 110, Polisi Amankan BB dan Tes Urine Positif
- Stok BBM Kepulauan Meranti Aman, Warga Diimbau Beli di SPBU Sesuai Ketentuan UUD 1945
Permigastara Dorong Pelibatan Pengusaha Lokal Tingkatkan Produktivitas Migas

Konferensi pers Perkumpulan Pengusaha Migas Energi Baru dan Terbarukan Nusantara di Pekanbaru. IST
PEKANBARU (VOKALONLINE.COM) - Semangat nasionalisasi aset pertambangan minyak dan gas di Indonesia ternyata tak sebanding dengan produktivitas minyak fosil nasional. Masa emas ketika Indonesia mampu menyedot jutaan barel minyak mentah dari perut bumi takkan pernah terulang.
Bahkan belakangan, impor minyak mentah ke Indonesia makin meningkat disaat perusahaan minyak yang dulunya dikuasai asing dikelola oleh Perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Negara (Pertamina).
Hal ini terungkap dari diskusi yang dilakukan Perkumpulan Pengusaha Migas Energi Baru dan Terbarukan Nusantara (Permigastara) di Pekanbaru. Perkumpulan ini baru saja terbentuk dan pertama kali diperkenalkan di Pekanbaru, Riau.
Ketua Dewan Penasehat Permigastara Ivan Pandopatan Purba mencontohkan pengelolaan Blok Rokan oleh Pertamina Hulu Rokan (PHR) beberapa waktu lalu. Di satu sisi, Riau patut bangga karena minyaknya akan dikelola oleh negara dengan harapan dana bagi hasil Migas makin meningkat.
Namun di sisi lain, produktivitas minyak di daerah yang meliputi Rokan Hilir, Siak, Bengkalis dan Kota Dumai itu saat ini hanya 176 ribu barel per hari. Angka yang jauh dari masa keemasan karena blok ini pernah mencapai angka 1,5 juta barel per hari.
Menurut Ivan, PHR memang berencana meningkatkan produksi hingga 300 ribu per hari. Hanya saja butuh biaya besar mewujudkannya ditambah lagi kebutuhan sumber daya manusia memadai.
Tak hanya itu, peralihan pengelola di Blok Rokan juga membutuhkan masa transisi. Karyawan PT Chevron Pasifik Indonesia melebur ke PHR sehingga membutuhkan penyesuaian.
"Ada dua budaya, yaitu mantan karyawan PT Chevron yang biasa bekerja efisien dengan budaya Pertamina," kata Ivan, Selasa siang, 2 November 2021.
Oleh karena itu, Ivan menyatakan di sanalah peran Permigastara hadir. Bagaimana transisi dan produksi minyak meningkat dengan sinergitas pemerintah daerah sebagai yang punya wilayah.
"Ini menjadi tantangan disaat kebutuhan energi dari migas meninggi dengan menurunnya produktivitas, Permigastara hadir bagaimana industri migas lebih kondusif," tegas Ivan.
Sementara terkait peningkatan sumber daya manusia, khususnya masyarakat tempatan dalam bidang migas, Ketua Umum Permigastara Peri Akri ingin ada pusat pendidikan migas di Riau. Daerah Duri, Kabupaten Bengkalis, jadi pilihan karena berada di tengah-tengah Blok Rokan.
Selama ini, teknologi dan pendidikan migas di Indonesia selalu berkiblat pada Blok Cepu. Peri ingin yang ada di Cepu ini "dihadirkan" di Duri sehingga masyarakat tempatan berperan besar dalam meningkatkan produktivitas migas.
"Ini sudah dikoordinasikan dengan Pertamina dan Cepu sehingga Riau bisa mendapatkan apa yang seharusnya didapatkan secara layak," kata Peri.
Tak hanya migas dari fosil, kehadiran Permigastara juga akan lebih banyak dalam meningkatkan energi baru terbarukan. Sebut saja misalnya B-30, B-60 hingga B-100 yang sudah digalakkan pemerintah pusat.
Saat ini, Riau punya kans besar karena ada 1,2 juta hektare lahan bermasalah akan diambil alih negara. Nantinya akan dikembalikan kepada masyarakat di Riau untuk mengelola.
"Di lahan itu sudah ada sawitnya, dikelola masyarakat dan ini mendukung pengembangan energi terbarukan, apalagi akan ada pabrik yang segera dibangun" kata Peri.
Dengan upaya ini, Permigastara bakal meningkatkan alokasi peran energi baru dan terbarukan yang saat ini baru 15 persen menjadi 30 persen. Visi dan misi Permigastara juga mendapatkan dukungan dari Istana.
"Kepala Staf Presiden Jenderal Purnawirawan Moeldoko meminta Permigastara tidak hanya soal migas tapi juga energi baru dan terbarukan," kata Peri.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Permigastara John Peiter Simanjuntak menyebut segera dibentuk 12 pengurus daerah di Riau untuk mewujudkan itu semua. Selanjutnya menyusul provinsi lain yang bersentuhan dengan produksi migas serta energi baru terbarukan.
John mengatakan, Permigastara beranggotakan pengusaha di bidang minyak. Pihaknya membuat peranan besar pengusaha lokal agar tidak hanya menjadi penonton di daerahnya.
"Jangan menjadi penonton di negeri sendiri, di sinilah kami hadir," kata John. (syu)
Berita Terkait :
- Bupati Kampar Sampaikan KUA-PPAS TA 2022 ke DPRD0
- Gajah Sakit yang Sempat Diobati BBKSDA Riau Ditemukan Mati0
- Bank BJB Gelar Rangkaian Talkshow Mesrakan UMKM0
- Donatur H Asnimar Buka Turnamen Voli Pulau Tinggi0
- Perkuat Kerjasama, Rektor UIN Teken MoU dengan SPS Cabang Riau 0
_Black11.png)









