- Wawako Pekanbaru Markarius Anwar Tekankan Pentingnya Sinergi di ASWAKADA 2026
- Angggota DPR RI Hendry Munief Berikan Catatan Penting saat Musrenbang RKPD 2027 Pemprov Riau
- Pertandingan Tinju Menambah Semarak Hari Jadi Kota Dumai ke 27
- Kontribusi Besar Alih Daya PDC dalam Mendukung Pemenuhan Kebutuhan Energi Bagi Negeri
- KNARA Gelar Rapat Akbar di Inhu, Konflik HTI dan HGU Jadi Perhatian
- Bupati Asmar Minta JCH Meranti Doakan Kebaikan untuk Daerah
- Kejari Meranti Kembali Galakkan Jaksa Masuk Sekolah Ajak Siswa Sadar Dengan Hukum
- Saat Wisuda Sekolah Wirausaha Aisyiyah Riau, Hendry Munief Sebut Perempuan Berpotensi Gerakkan UMKM
- Dumai Expo 2026: Promosi Daerah Bangkitkan Ekonomi dan Pariwisata
- Walikota Pimpin Upacara HUT Kota Dumai ke-27, Soroti Program Unggulan
Riau Menuju Magnet Baru Sumber Pertumbuhan Ekonomi Sumatra

Pemateri dan penanggap dalam Seminar Ekonomi Nasional Harian Vokal dan Kantor Penasehat Ahli Gubernur Riau Bidang Komunikasi di Hotel Grand Central Pekanbaru. IST
PEKANBARU (VOKALONLINE.COM) - Pasca pandemi, ekonomi Indonesia mulai bangkit. Perkiraan capaian pertumbuhan ekonomi pada tahun 2021 di rentang 3,54 persen optimis tercapai. Proyeksi tahun 2022 jauh lebih optimis. 6-7 persen akan bisa meniru capaian ekonomi sebelum pandemi Covid-19.
Pada saat bersamaan Malaysia dan Thailand masih berusaha keras rebound ekonominya yang jauh tertinggal dibanding sebelum pandemi. Pertumbuhan ekomomi mereka pada tahun 2021 masih negatif masing-masingnya minus 4 persen dan Thailand mendekati 0 persen.
Optimisme itu ditambah dengan berbagai indikator tambahan untuk Indonesia. Bahkan Apkindo memperkirakan tahun 2022 jumlah penjualan mobil sampai 800 ribu unit sementara untuk sepeda motor dipatok 5 juta unit.
Pertumbuhan yang tinggi sekitar 1 juta tambahan peningkatan penjualan dibanding tahun 2019 sebelum pandemi cukup berani.
Meraba ekonomi lokal, seperti Riau, Sumatra Utara, Sumatra Barat dan Jambi juga mirip-mirip ekonomi nasional.
Selama ini, dampak pandemi memang lebih besar dirasakan pada daerah di mana ekonominya tumbuh pesat, seperti Jawa dan Riau.
Saat bersamaan semestinya juga pembalikan "recovery" ekonomi juga akan diperankan oleh provinsi-provinsi di mana kinerja dan besaran nilai tambahnya tinggi.
Seharusnya, pembalikan ekonomi mampu menjawab tantangan distribusi dan ketimpangan hasil prmbangunan, mengurangi pengangguran dan kemiskinan.
Riau: Magnet Baru Sumatra
Daerah di mana sumberdaya alamnya luas baik di bawah tanah berupa hasil tambang serta atas tanah berupa perkebunan merupakan potensi. Riau mendapatkan posisi penting dalam konteks ini.
Sementara Sumbar bercirikan keindahan alam akan panen banyak orang yang akan berkunjung. Sehingga sektor tourism dan pertanian menjadi kunci.
Tatkala proses pembangunan infrastruktur semakin dapat selesai, karena Riau cepat menyelesaikan persoalan tanah, maka magnet baru pertumbuhan ekonomi Sumatra akan dipegang oleh Riau.
Peranan dan posisi Riau ke Utara, Barat dan Selatan serta Timur menjadi penghubung apalagi pasca pembangunan jalan tol.
Pertanyaanya adalah apakah selama ini dampak dari pembangunan sudah dirasakan lebih banyak oleh masyarakat Riau?
Setidaknya dari pengurangan angka kemiskinan, mengurangi pengangguran dan ketimpangan distribusi hasil hasil pembangunan.
Ketimpangan terasa menaik dari 0,3 pada media 2000 menjadi 0,32 pada tahun 2020. Artinya hasil-hasil bumi Riau semakin banyak dinikmati oleh orang lain baik pada kelompok 80 persen penghasilan ke atas maupun nilai tambah yang dinikmati oleh pengusaha luar Riau.
Namun apa yang menjadi penting ke depan adalah mesti memanfaatkan sumber pertumbuban baru dalam pembentukan nilai tambah.
Pertama, kemandirian konsumsi. Riau sejak sekarang mulai melihat posisi di mana ekonominya mesti mulai mampu berdiri sendiri.
Artinya selama ini ketergantungan masih tinggi terhadap pangan dan produk manufacturing, pelan pelan mesti mau dan mampu memiliki substitusi konsumsi ini. Sekaligus berdampak pada perluasan lapangan kerja lokal. Substitusi produksi bahan konsumsi pangan, durable dan non durable good terpilih mesti mulai difikirkan dan diperbaiki.
Proses industrialisasi selektif akan mampu meningkatkan peranan konsumsi dan dihasilkan oleh usaha lokal dengan fokus pada penguatan produksi, efisiensi dan "brand marketing"nya.
Tanpa dipetakan apa kelayakan industri turunan yg dapat mensupply keperluan masyarakat Sumatra maka kesempatan jadi magnet Sumatra akan menjadi redup dan hilang.
Kedua, Riau dapat optimalkan melalui skema investasi.
Baik investasi autonomus, maupun induced yang berasal dari pembentukan tabungan masyarakat, menjadi sumber penggerak penting ekonomi lokal.
Diperlukan inisiatif proposal baru untuk meyakinkan bahwa pengembalian investasi di Riau adalah besar.
Industri turunan dari CPO dan Pulp serta industri olahan makanan dan buah-buhanan masih menjanjikan, apalagi mau memilih jenis komoditas strategis baru yang selama ini diimpor dari luar negeri.
Penggalangan investasi dari dana masyarakat Melayu Rantau dan serumpun merupakan strategi untuk mengisi tambahan investasi baru ini.
Ketiga, efektivitas pengeluaran pemerintah daerah.
Ekonomi kecil kecilan masih oke. Tapi Riau juga mesti mau dan mampu memilih mau jagokan bidang produksi dan olahan komoditas apa.
Ini dapat diiniasi melalui penyeleksian secara ketat jenis industri olahan. Pemerintah daerah dapat arahkan sinergitas dan persiapan untuk memastikan produk quality dan branding terbangun.
Strategi persiapan eksport regional
Ketika jalan tol sudah selesai, maka peranan angkutan barang dan orang akan semakin penting. Termasuk pengiriman barang impor yang berasal dari negara ASEAN bisa memfungsikan pelabuhan Dumai kembali.
Ke depan akan tumbuh kota kota satelit baru di sepanjang rest area sepanjang jalan tol. Termasuk jalan jalan alternatif baru untuk penguatan kawasan di sekitar jalan Tol.
Arus kendaraan dari Malaysia bisa jadi dipersiapkan khususnya bagi pelintas batas yang ingin membawa kendaraaan masuk ke wilayah Sumatra.
Mengingat jarak tempuh yang semakin cepat antara Dumai Pakan Baru, dan Pakan Baru Jambi, Pekanbaru Padang, maka arus kendaraan ini mesti disiapkan bagaimana optimal dampaknya terhadap ekonomi lokal.
Setidaknya dari upaya di atas dapat memperbaiki tantangan hasil pembangunan.
Pertumbuhan ekonomi masa pandemi sudah berdampak pada pengurangan pengangguran 6,4 persen pada Agustus 2020 dan 4.4 persen pada tahun Agustus 2021. Selanjutnya kemiskinan 6.8 persen Maret tahun 2020 dan sedikit naik 7.1 persen tahun 2021 (maret).
Artinya tantangan ke depan pertumbuhan ekonomi yang dapat menekan kemiskinan dan ketimpangan hasil hasil pembangunan.***
Oleh:
Prof Dr Elfindri SE MA
Dir SDGs Center dan Pakar Ekonomi Universitas Andalas Sumatra Barat
Berita Terkait :
- Seminar Ekonomi Nasional Harian Vokal dan KPA Gubernur Riau Berjalan Sukses0
- Bank BJB Raih Predikat Indonesia Trusted Company di Ajang CPGI Award0
- Seperti Apa Wajah Perekonomian Riau Pasca-Pandemi, Besok Dibahas0
- Begini Momen Ketua TP PKK Kampar Disambut Anak Jokowi0
- Berakhir Besok, Warga Riau Ayo Manfaatkan Pemutihan Denda Pajak Kendaraan0
_Black11.png)









