- Kabar Duka, Sekjen PWI Zulmansyah Sekedang Meninggal Dunia
- WKC Open Championship II 2026 Sukses Digelar, Inkai Prestasi Sabet Juara Umum
- Di Hadapan Perwakilan 150 Negara, Dr. Syahrul Aidi Kecam Keras Tindakan Israel di Timur Tengah
- Sambu Group Satukan Petani dan Industri dalam Kenduri Kelapa 2026
- Mitra SPPG se-Inhil Turun Tangan Ringankan Luka Korban Kebakaran di Pulau Kijang
- Polres Inhil Amankan Pengedar Sabu dan Ekstasi di Keritang
- Lapas Tembilahan Gelar Bakti Sosial, Salurkan 17 Paket Sembako untuk Keluarga Warga Binaan
- Konflik Agraria Inhu Petani Sungai Raya dan Sekip Hilir, Adian Napitupulu: Jangan Tekan Masyarakat
- RSUD Tengku Sulung Ajak Semua Elemen Beri Dukungan Pemulihan untuk Korban Kebakaran Pulau Kijang
- Polda Riau Kukuhkan 23 Duta Anti Narkoba, Kapolda: Panipahan Jadi 'Wake-Up Call' Bersama
NU Diajak Lebih Berperan Rawat Nilai Sosial Saat Transformasi Digital

memberikan rekomendasi panduan konten
Jakarta, VokalOnline.Com - Akademisi bidang komunikasi dari Universitas Gajah Mada (UGM) Nyarwi Ahmad berpendapat, organisasi berbasis agama Nahdlatul Ulama (NU) dapat memegang peranan penting dalam membantu dan merawat nilai-nilai sosial di tengah transformasi digital yang berlangsung cepat di Indonesia.
"NU bisa memberikan warna dengan menjaga nilai, memberikan rekomendasi panduan konten. Jadi bisa mengawal masa disrupsi konten ini dan menjaga lebih ke nilai-nilai (sosial) di masyarakat," kata Nyarwi dalam diskusi "Menyonsong Satu Abad NU: Mencerdaskan Warga, Menata Kembali Peradaban di Era Digital" secara daring, Kamis.
Sejak adaptasi teknologi dipercepat sebagai imbas pandemi COVID-19, Indonesia pada 2021 akhirnya mencanangkan visi akselerasi transformasi digital nasional dengan target menjadi "digital nations". Berdasarkan data Hootsuite dan We Are Social pada awal 2022, Indonesia telah mencapai 204,7 juta orang atau meningkat 2,1 juta dari tahun sebelumnya.
Namun memang tak bisa dielak dalam prosesnya penggunaan platform digital khususnya media sosial dalam menayangkan konten-konten terkadang kurang mendidik dan akhirnya berpotensi buruk bagi masyarakat.
Misalnya dari yang paling sederhana, seperti kasus anak-anak remaja yang tiba-tiba memberhentikan truk yang melaju karena merasa tertantang dari konten-konten viral lainnya.
Ancaman lainnya seperti penipuan daring hingga perundungan siber pun ikut marak terjadi dan tentunya hal- hal itu perlu diatasi dengan regulasi yang tepat. Peran NU sebagai komunitas dapat menjadi mitra kolaborasi Pemerintah dalam hal mengatur transformasi digital ialah Kementerian Kominfo.
Berbasis organisasi agama komunitas seperti NU bisa memberikan warna baru untuk menjaga dan merawat nilai- nilai serta norma khas yang dimiliki Indonesia sejak dahulu.
Di samping berperan menjadi kolaborator dengan pemangku kepentingan, para anggota NU diharapkan bisa secara aktif memanfaatkan kanal-kanal digital atau akses digital lainnya di momentum transformasi digital untuk bisa menjadi "role model" di tengah kondisi dunia yang tidak pasti.
Dengan demikian, masyarakat tidak hanya di Indonesia tapi juga di luar negeri bisa meneladani hal- hal baik yang tentunya sejalan dengan ajaran agama.
"NU bisa jadi role model, karena dunia ini lagi kacau balau kan? Kita tahu konflik di Rusia-Ukraina, di Timur Tengah. Kadang orang luar iri lihat NU di Indonesia karena adem ayem, kita harus tunjukkan ke dunia, kalau kita bisa jadi role model," tutup Nyarwi. **Fira
Berita Terkait :
- Presiden Tepati Janji Perbaiki Sanitasi Keluarga Stunting0
- Epidemiolog UI Tidak Setuju Penyebutan Penyakit Hepatitis Misterius0
- HUT Bhayangkara Ke 76 Tahun 2022, JMSI Apresiasi Kapolda Sumut0
- Ketua Presidium FPII Kasih hati APH berlaku Zolim Kepada Wilson Lalengke0
- Integrasi Sawit-Sapi Jadi Pilihan, Guna Penuhi Pasokan Daging Nasional0
_Black11.png)









