- Pemkab Kuansing dan RAPP Perkuat Sinergi Percepatan Penurunan Stunting
- 21 Perkara Inkracht Dimusnakan Barang Bukti di Kejari Meranti
- 110 Jemaah Calon Haji Meranti Akan Berangkatkan Senin di Embarkasi Batam
- Rianto SH, MH Disorot, 70-an Peserta Ramaikan Seleksi KI Sumut 2026
- FORKI Riau Fokus TC Penuh Jelang Kejurnas Bandung, Perangkingan Atlet Digelar 26 April
- Temui Menteri ATR/BPN dan Dirjen Migas, Bupati Afni Perjuangkan Hak Rakyat Kandis dan Minas
- Pengedar Ganja di Banglas Dibekuk Berkat Layanan 110, Polisi Amankan BB dan Tes Urine Positif
- Stok BBM Kepulauan Meranti Aman, Warga Diimbau Beli di SPBU Sesuai Ketentuan UUD 1945
- Pasutri Diringkus Sat Resnarkoba Polres Kep Meranti, Diduga Jadi Pengedar Ekstasi
- Pemkab Siak dan Utusan Presiden Luruskan Informasi Dokter Spesialis, Pelayanan Harus Tetap Berjalan
Resesi Seks China Makin Nyata, Populasi Menyusut di 13 Provinsi

Jakarta, VokalOnline.Com - Ancaman resesi seks di China tampaknya semakin nyata. Populasi penduduk di 13 provinsi China dilaporkan mengalami penyusutan drastis tahun lalu sehingga pertumbuhan penduduk melambat.
Laporan itu menguatkan tentang krisis demografi yang dialami negara komunis terbesar di dunia tersebut.
Buku Statistik Tahunan China 2022 melaporkan setidaknya lebih banyak angka kematian ketimbang kelahiran di 13 provinsi China.
Angka itu memicu kekhawatiran terhadap masalah ekonomi di China, seperti dikutip dari South China Morning Post.
Sebanyak 13 provinsi yang dilaporkan mengalami penyusutan populasi di antaranya adalah Sichuan, Chingqing, Hunan-Hubei, Hebei, Shanxi dan wilayah otonomi Mongolia. Provinsi lainnya yang mengalami masalah serupa adalah Liaoning, Jilin, dan Heilongjiang.
Populasi menurun drastis di enam provinsi terakhir sepanjang sejarah era modern. Angkat itu membuat rata-rata kelahiran China turun jadi 7,25 per 1.000 orang pada 2021. Angka itu merupakan rekor terendah sejak 1949.
Rata-rata kelahiran di Provinsi Heilongjiang anjlok jadi 2,59 per 1.000 orang tahun lalu. Sebaliknya, rata-rata kematian pada tahun lalu melonjak jadi 8,7 per 1.000 orang dan merupakan yang tertinggi.
Data resmi menunjukkan populasi China hanya bertambah 480 ribu menjadi 1,4126 miliar tahun lalu. Angka itu menjadi pertumbuhan populasi terkecil sejak 1962 dan mengalami penurunan drastis dari peningkatan 2,04 juta orang pada 2020.
Para ibu di China hanya melahirkan 10,62 juta bayi pada 2021 atau mengalami penurunan 11,5 persen dibandingkan 2020.
Direktur Institut Ekonomi Kependudukan dan Tenaga Kerja di Akademi Ilmu Sosial China, Cai Feng, memprediksi populasi China akan mencapai puncaknya tahun ini dan mulai melorot tahun depan karena resesi seks. Ia mengatakan kondisi itu akan berdampak buruk pada aspek permintaan dan penawaran di ekonomi China.
Cai mengatakan di era pertumbuhan penduduk, kuncinya adalah menstabilkan dan menjaga pertumbuhan sembari memperluas permintaan untuk menopang pertumbuhan ekonomi.
"Salah satu tantangan terbesar kami (China) ke depan terletak pada sisi konsumsi. Kemakmuran bersama dan sirkulasi (ekonomi) domestik berarti mengubah populasi besar menjadi kelompok berpenghasilan menengan yang besar dan pasar yang besar," tutur Cai seperti dikutip dari SCMP.**Syafira
Berita Terkait :
- Pasar Ramal The Fed Kerek Suku Bunga, Rupiah Lesu di Rp15.7270
- Qatar Teken Kesepakatan Pasokan Gas Terpanjang dengan China0
- Harga Kripto Kompak Lesu Dalam Sepekan Terakhir0
- IHSG Diprediksi Lesu Dibayangi Sentimen Kenaikan Bunga The Fed0
- Imbal Hasil Obligas AS Naik, Harga Emas Lesu di Rp975 per Gram0
_Black11.png)









