- Hendry Munief Dorong Pengusaha Muslimah Kembangkan Sektor UMKM dan Ekraf
- Reskrim Polsek Tebing Tinggi Amankan Pelaku Pencurian di Ruko Jalan Tanjung Harapan
- Sambut Hari Bhakti Pemasyarakatan ke-62, Lapas Tembilahan Gelar Donor Darah Bersama
- Polres Inhil Ungkap Kasus Peredaran Sabu di Batang Tuaka, Satu Pengedar Diamankan
- Polres Inhil Ungkap Kasus Peredaran Sabu, Seorang Pengedar Diamankan di Tembilahan
- Polsek Kempas Ungkap Kasus Narkotika di Desa Danau Pulai Indah, Satu Pelaku Diamankan
- Kabar Duka, Sekjen PWI Zulmansyah Sekedang Meninggal Dunia
- WKC Open Championship II 2026 Sukses Digelar, Inkai Prestasi Sabet Juara Umum
- Di Hadapan Perwakilan 150 Negara, Dr. Syahrul Aidi Kecam Keras Tindakan Israel di Timur Tengah
- Sambu Group Satukan Petani dan Industri dalam Kenduri Kelapa 2026
Yordania hingga Saudi Tolak Usul Iran Embargo Minyak ke Israel

KTT Luar Biasa negara-negara mayoritas muslim dan Arab. di Riyadh (via REUTERS/WANA NEWS AGENCY)
Jakarta, VokalOnline.Com - Yordania, Qatar, Mesir, hingga Arab Saudi menolak usulan Presiden Iran, Ebrahim Raisi, untuk mengembargo minyak Israel untuk mengupayakan penghentian agresi di Palestina.
Usulan ini disampaikan oleh Raisi dalam konferensi tingkat tinggi (KTT) luar biasa antara Liga Arab dan Organisasi Kerja sama Islam (OKI) di Riyadh, Arab Saudi, pada Sabtu (11/11).
Melalui pidatonya, Raisi meminta agar negara-negara Islam menjatuhkan sanksi internasional kepada Israel.
"Tidak ada cara lain selain melawan Israel, kami mencium tangan Hamas atas perlawanannya terhadap Israel," kata Raisi, dikutip dari Iran International.
Namun, seruan Raisi mendapat penolakan dari beberapa negara yang hadir, seperti Mesir, Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab (UEA), dan Yordania.
Negara-negara Arab yang sudah menjalin hubungan diplomasi dengan Israel menyatakan penting untuk tetap menjaga saluran terbuka dengan pemerintahan Netanyahu.
Mesir sebelumnya telah membuat perjanjian damai dengan Israel pada 1979 atas peristiwa Perang Arab-Israel 1948. Begitu juga Yordania yang menandatangani perjanjian damai pada 1994. Negara UEA dan Bahrain menormalisasi hubungannya dengan Israel pada 2020 melalui Abraham Accords.
Embargo minyak dan barang Israel bukan satu-satunya tuntutan Raisi untuk menghukum Israel. Dilansir dari Anadolu Agency, Raisi meminta penghentian total penyerangan Israel, pencabutan pengepungan, penarikan pasukan Israel di Gaza, menetapkan tentara Israel sebagai organisasi teroris, serta pemutusan hubungan diplomatik negara-negara Islam dengan Israel.
Tuntutan Raisi ini mendapatkan reaksi pro dan kontra dalam konferensi, terutama terkait penetapan tentara Israel sebagai organisasi teroris. Negara Arab juga bersikeras bahwa Israel dan Palestina harus hidup berdampingan yang sesuai dengan perbatasan 4 Juni 1967.
Walaupun timbul berbagai perdebatan dalam konferensi ini, disepakati poin-poin penting resolusi yang bertujuan untuk menghentikan agresi Israel di Palestina.(fit)**
Berita Terkait :
- Erdogan di OKI: Perlu Gencatan Senjata Permanen, Bukan Cuma Jeda0
- Satu Keluarga WNI dari Gaza Selatan Palestina Berhasil Dievakuasi0
- Seberapa Panjang Jaringan Terowongan Metro Gaza Buatan Hamas?0
- Erdogan Ogah Temui Menlu AS Blinken di Turki0
- Dokter Anestesi Palestina Lulusan UNS RI Tewas Kena Bombardir Israel0
_Black11.png)









