- Diskusi dengan Wartawan, Syahrul Aidi Dorong Solusi Krisis Media Massa
- Gaungkan Semangat Hari Bumi, PEP Lirik Ajak Masyarakat Ubah Sampah Jadi Bernilai
- Pemkab Kuansing dan RAPP Perkuat Sinergi Percepatan Penurunan Stunting
- 21 Perkara Inkracht Dimusnakan Barang Bukti di Kejari Meranti
- 110 Jemaah Calon Haji Meranti Akan Berangkatkan Senin di Embarkasi Batam
- Rianto SH, MH Disorot, 70-an Peserta Ramaikan Seleksi KI Sumut 2026
- FORKI Riau Fokus TC Penuh Jelang Kejurnas Bandung, Perangkingan Atlet Digelar 26 April
- Temui Menteri ATR/BPN dan Dirjen Migas, Bupati Afni Perjuangkan Hak Rakyat Kandis dan Minas
- Pengedar Ganja di Banglas Dibekuk Berkat Layanan 110, Polisi Amankan BB dan Tes Urine Positif
- Stok BBM Kepulauan Meranti Aman, Warga Diimbau Beli di SPBU Sesuai Ketentuan UUD 1945
Inflasi Terjaga di 5,71 Persen, Jaminan RI Bebas Krisis dan Resesi?

VokalOnline.Com- Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan RI di level 5,71 persen per Oktober. Secara bulanan, indeks harga konsumen (IHK) mengalami deflasi 0,11 persen.
Inflasi Oktober lebih landai diyakini karena penurunan harga sejumlah komoditas, seperti cabai merah, telur ayam, daging ayam, cabai rawit, tomat, hingga bawang merah.
Tercatat, inflasi untuk cabai merah turun drastis dari 148,66 persen menjadi 57,60 persen secara tahunan. Lalu, telur ayam dari 31,28 persen menjadi 26,41 persen, daging ayam dari 5,61 persen menjadi 1,84 persen.
Lantas, apakah deflasi ini menjadi jaminan bahwa RI bebas krisis atau setidak-tidaknya jauh dari ancaman resesi ekonomi?
Ekonom Indonesia Strategic and Economics Action Institution Ronny P Sasmita mengingatkan bahwa penurunan inflasi tidak serta merta membuat RI lolos dari ancaman jeratan resesi."Saya rasa tidak ada jaminan untuk itu (bebas risiko). Justru turunnya inflasi harus dilihat secara kritis.
Malah, seharusnya pemerintah perlu lebih jeli melihat apakah penurunan harga sejumlah komoditas yang membuat deflasi Oktober karena terjadi pelemahan daya beli masyarakat.
Ronny menjelaskan penurunan inflasi Oktober dibanding September terjadi karena efek kenaikan harga BBM sudah sudah berlalu.
Ia menilai melonjaknya harga-harga komoditas pokok imbas kenaikan BBM lebih banyak terjadi pada September. Sehingga, efek lanjutannya pada Oktober tidak terlalu signifikan.
Harga komoditas pokok sudah memasuki pola yang cukup normal. Keseimbangan antara permintaan dan penawaran untuk sementara waktu mulai terbentuk.
Bahkan, untuk makanan dan minuman secara bulanan tercatat minus, walaupun secara tahunan masih naik. Lihatlah, secara tahunan inflasi bahan makanan mencapai 7,04 persen pada Oktober 2022.
Karena hal tersebut, Ronny mengatakan deflasi pada Oktober mengindikasikan permintaan mulai melemah. Ia menilai lesunya permintaan disebabkan oleh kenaikan harga-harga di September lalu maupun karena bertambahnya pengangguran.
Jika hal ini benar, maka Indonesia justru akan semakin rentan terhadap tekanan resesi global. "Artinya, daya beli dan permintaan harus benar-benar dijaga, jika memungkinkan ditingkatkan," imbuh Ronny.
Oleh karenanya, penting bagi pemerintah menyiapkan berbagai skema kebijakan untuk memitigasi penurunan permintaan dan daya beli ini.
Menurutnya, skema itu bisa dilakukan baik dalam bentuk kebijakan bantuan sosial kemasyarakatan maupun kebijakan untuk memitigasi pemutusan hubungan kerja (PHK) lebih lanjut.
Pun secara moneter, Bank Indonesia (BI) perlu memikirkan untuk tidak menaikan lagi suku bunga acuan. Paling tidak sampai data PDB kuartal ketiga keluar."Hal ini agar beban dunia usaha untuk mendapatkan likuiditas segar tidak terlalu sulit," kata Ronny.
Segendang sepenarian, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Nailul Huda deflasi pada Oktober 2022 belum layak dibilang penguatan ekonomi.
Sebab, deflasi terjadi karena penurunan harga pada beberapa bahan makanan yang merupakan volatile goods. Sementara itu, perubahan harga pada barang-barang itu biasanya terjadi sangat cepat.
Ia menyebut harga bahan makanan, seperti cabai merah, telur ayam ras, daging ayam ras, cabai rawit, tomat, dan bawang merah dipengaruhi oleh permintaan dan cuaca.
Apalagi, dari sisi inflasi inti, Indonesia berada di level 3,31 persen secara tahunan pada Oktober. Dengan begitu RI tidak bisa percaya diri bisa sepenuhnya lolos dari ancaman resesi global.**Syafira
Berita Terkait :
- Suku Bunga The Fed Tekuk Rupiah Berlutut Nyaris ke Rp15.7000
- Pemerintah Janji UMP Naik, Tapi Idealnya Berapa0
- AS Siapkan Bansos Rp211 T untuk Bayar Tagihan Energi, Termasuk Listrik0
- Harga Minyak Dunia Naik ke US$96 Usai The Fed Kerek Suku Bunga0
- Menhub Klaim Jepang, Korea, dan Inggris Akan Investasi di Proyek MRT0
_Black11.png)









