Breaking News
- Kabar Duka, Sekjen PWI Zulmansyah Sekedang Meninggal Dunia
- WKC Open Championship II 2026 Sukses Digelar, Inkai Prestasi Sabet Juara Umum
- Di Hadapan Perwakilan 150 Negara, Dr. Syahrul Aidi Kecam Keras Tindakan Israel di Timur Tengah
- Sambu Group Satukan Petani dan Industri dalam Kenduri Kelapa 2026
- Mitra SPPG se-Inhil Turun Tangan Ringankan Luka Korban Kebakaran di Pulau Kijang
- Polres Inhil Amankan Pengedar Sabu dan Ekstasi di Keritang
- Lapas Tembilahan Gelar Bakti Sosial, Salurkan 17 Paket Sembako untuk Keluarga Warga Binaan
- Konflik Agraria Inhu Petani Sungai Raya dan Sekip Hilir, Adian Napitupulu: Jangan Tekan Masyarakat
- RSUD Tengku Sulung Ajak Semua Elemen Beri Dukungan Pemulihan untuk Korban Kebakaran Pulau Kijang
- Polda Riau Kukuhkan 23 Duta Anti Narkoba, Kapolda: Panipahan Jadi 'Wake-Up Call' Bersama
Aktivitas PT di Madina Ditutup Sementara Usai 58 Warga Keracunan Gas

Ilustrasi. Kabid Humas Polda Sumut menyatakan aktivitas PT SMGP di Sibanggor Julu, Kabupaten Madina disetop sementara imbas setidaknya 58 orang keracunan gas.
Medan, VokalOnline.Com - Aktivitas PT Sorik Marapi Geothermal Power (PT SMGP) di Desa Sibanggor Julu, Kecamatan Puncak Sorik Marapi, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara (Sumut) dihentikan sementara.
Hal itu dilakukan setelah 58 warga keracunan gas H2S (Hidrogen Sulfida) saat PT SMGP melakukan welltest di wellpad AAE pada Minggu (6/3) petang, pukul 15.00 WIB. Pada saat melakukan welltest, ternyata asap sumur mengarah ke pemukiman warga yang berjarak sekitar 300 meter dari lokasi.
"Ditutup sementara," kata Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol Hadi Wahyudi, Senin (7/3). dilansir dari cnn indonesia. Hadi menyebutkan dari 58 orang yang dirawat di rumah sakit akibat keracunan gas, 36 orang di antaranya sudah dibolehkan pulang ke rumah masing-masing.
"Sudah kembali ke rumahnya ada 36 orang. Beberapa saksi korban juga tengah dimintai keterangan," ujarnya. Bupati Madina M Jafar Sukhairi juga buka suara terkait keracunan massal itu. Selain itu ada tiga orang anak usia 9 bulan yang turut keracunan. Para korban mengalami muntah-muntah, pusing, dan sesak nafas.
"Ini akibat adanya kebocoran H2S sehingga masyarakat di sekitar kegiatan pengeboran, terkena," kata M Jafar Sukhairi, Senin lalu. M Jafar Sukhairi pun meminta PT Sorik Merapi Geothermal bertanggungjawab. Sebab kejadian gas beracun yang berdampak pada warga ini sudah pernah terjadi juga sebelumnya. Pada 25 Januari 2021 silam, proyek power plant Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) yang dikerjakan perusahaan itu juga mengambil 5 korban jiwa.
"Kejadian ini terulang kedua kalinya. Saya berharap pihak perusahaan ikut bertanggung jawab. Terhadap saudara kita yang menjadi korban. Patut juga perusahaan mempertimbangkan terkait kondisi masyarakat di sekitar kegiatan, apakah pihak perusahaan melakukan relokasi," tambah Sukhairi. Ia mengatakan petugas masih melakukan pendataan di lapangan terkait jumlah korban. Selain itu, Sukhairi menyerahkan penanganan kasus itu ke polisi.
"Kita tetap memonitor apakah ada korban lagi. Kita belum tahu apakah ini kelalaian perusahaan atau murni ini faktor alam. Namun kita serahkan ke pihak terkait. Ini ditangani secara serius," tegas Sukhairi.**vol/jn
Berita Terkait :
- Kasus Proyek Gereja di Mimika, KPK Duga Ada Aturan Dikesampingkan0
- Prabowo Bertemu Wamenhan Arab Saudi Bahas Kerja Sama Militer0
- Seluruh DIY untuk Pertama Kali Berstatus PPKM Level 40
- Ketua Fraksi NasDem DPRD DKI Diperiksa KPK di Kasus Bupati Probolinggo 0
- KPK Jebloskan Wawan ke Lapas Sukamiskin terkait Kasus Suap Kalapas 0
Write a Facebook Comment
Tuliskan Komentar anda dari account Facebook
View all comments
_Black11.png)









