- Pemkab Kuansing dan RAPP Perkuat Sinergi Percepatan Penurunan Stunting
- 21 Perkara Inkracht Dimusnakan Barang Bukti di Kejari Meranti
- 110 Jemaah Calon Haji Meranti Akan Berangkatkan Senin di Embarkasi Batam
- Rianto SH, MH Disorot, 70-an Peserta Ramaikan Seleksi KI Sumut 2026
- FORKI Riau Fokus TC Penuh Jelang Kejurnas Bandung, Perangkingan Atlet Digelar 26 April
- Temui Menteri ATR/BPN dan Dirjen Migas, Bupati Afni Perjuangkan Hak Rakyat Kandis dan Minas
- Pengedar Ganja di Banglas Dibekuk Berkat Layanan 110, Polisi Amankan BB dan Tes Urine Positif
- Stok BBM Kepulauan Meranti Aman, Warga Diimbau Beli di SPBU Sesuai Ketentuan UUD 1945
- Pasutri Diringkus Sat Resnarkoba Polres Kep Meranti, Diduga Jadi Pengedar Ekstasi
- Pemkab Siak dan Utusan Presiden Luruskan Informasi Dokter Spesialis, Pelayanan Harus Tetap Berjalan
Kenapa PM Anwar Ibrahim Sulit Bentuk Kabinet Pemerintahan Malaysia?

Malaysia belum juga memiliki kabinet pemerintahan sepekan setelah Anwar Ibrahim dilantik menjadi perdana menteri. Anwar Ibrahim mengakui bahwa ia kesulitan.
Jakarta, VokalOnline.Com - Malaysia belum juga memiliki kabinet pemerintahan sepekan setelah Anwar Ibrahim dilantik menjadi perdana menteri. Anwar Ibrahim mengakui bahwa ia kesulitan menyusun kabinet.
Anwar sempat membeberkan bahwa alasan ia membutuhkan banyak waktu salah satunya karena pemerintahan yang ia pegang kini melibatkan banyak pihak.
"Berbeda dengan sebelumnya, pemerintahan bersama ini melibatkan banyak pihak. Sebelum mengambil keputusan, saya harus mendengarkan semua pandangan," kata Anwar, seperti dikutip The Star, Selasa (29/11).
Anwar memang membentuk pemerintahan gabungan karena perolehan suaranya dalam pemilihan umum lalu tak cukup untuk membentuk mayoritas parlemen.
Kini, Anwar harus melakukan konsolidasi kekuatan dengan pihak-pihak lainnya dalam pemerintahan gabungan tersebut, termasuk Barisan Nasional (BN) yang dikenal sangat nasionalis.
Sementara itu, koalisi Anwar, Pakatan Harapan (PH), selama ini dikenal merangkul keberagaman, dengan partai anggota yang multi ras.
Selain itu, Anwar juga harus memikirkan janji kampanyenya, yaitu membentuk kabinet yang ramping. Menurutnya, jajaran pemerintahan di masa-masa sebelumnya terlalu besar.
"Sebelumnya, Anda bisa memasukkan 50, 60, atau 70 (anggota) kabinet. Jika ini tidak cukup, ada penunjukan utusan dan penasihat khusus. Saya tidak mau melakukan itu," kata Anwar.
Profesor dari Departemen Studi Malaysia Universitas Nasional Singapura, Maznah Mohamad, juga mengakui bahwa Anwar memang akan kesulitan membentuk kabinet dan mempertahankan stabilitas.
"Tentu tantangan tersendiri bagi Anwar mengingat koalisi ini sangat rentan karena orang-orang di dalamnya terlalu plural," katanya kepada Channel NewsAsia.
Ia kemudian berkata, "Ini menjadi tantangan karena di satu sisi, ia ingin kabinet yang ramping. Namun di sisi lain, ada banyak pihak yang harus dipuaskan."
Selain itu, Anwar juga dianggap akan kesulitan mencari jajaran pejabat yang dapat memulihkan perekonomian Malaysia sesuai janji kampanyenya.
Untuk merealisasikan visi perbaikan ekonomi itu, Anwar perlu menemukan menteri keuangan yang bisa mengarahkan finansial negara, sekaligus mempertahankan kekuasaan dirinya.
Keinginan Anwar itu juga harus mendapatkan dukungan dari pemerintahan gabungannya, yang juga mencakup Barisan Nasional. BN sendiri sempat menjadi musuh bebuyutan Anwar.
Anwar juga bakal menghadapi situasi ekonomi yang sulit tahun depan. Hampir seluruh perkiraan menunjukkan perekonomian global bakal mengalami perlambatan akut, sebagaimana dilaporkan Nikkei Asia.
Resesi dan krisis ekonomi pun tampak nyata, sehingga Anwar harus menyajikan anggaran yang bisa melindungi Malaysia. Jika tidak, rumah tangga dengan pendapatan rendah dan menengah akan kesulitan memenuhi kebutuhan hidup.
PR memperbaiki ekonomi negara dianggap sebagai arena pelatihan bagi perdana menteri Malaysia. Para pemimpin masa lalu terkadang menunjuk teknokrat, atau memegang kendali itu sendiri.
Profesor kajian ekonomi Asia Timur dari Universitas California, Woo Wing Thye, mengatakan tak ada alasan untuk memilih politikus untuk mengisi pos menkeu, kecuali jika PM itu memang ingin memegang kendali sendiri.
"Tugas menteri keuangan adalah mengidentifikasi proyek-proyek yang bagus dan punya kedudukan politik untuk bisa mendorong apa yang menurutnya merupakan sikap ekonomi tepat bagi pemerintah," kata Wo, seperti dikutip Bloomberg.
Menurut laporan The Star, Anwar sebenarnya punya sejumlah kandidat yang bisa menduduki posisi menteri keuangan. **Syafira
Berita Terkait :
- MbS Disebut Ancam Perkosa Keluarga Eks Putra Mahkota Saudi0
- Pesawat Tempur China-Rusia Masuk Zona Pertahanan, Korsel Kerahkan Jet0
- Eks Presiden China Jiang Zemin, Tokoh Komunis Penggemar Film Hollywood0
- Bom Bunuh Diri Taliban Meledak di Pakistan, Tiga Orang Tewas0
- Kenapa Paham ISIS Bisa Masuk ke Indonesia0
_Black11.png)









